Sejarah logika dimulai dari filsafat Yunani Kuno dengan tokoh seperti Thales, berkembang menjadi ilmu sistematis oleh Aristoteles (logika silogistik), lalu dilanjutkan oleh kaum Stoa yang memperkenalkan istilah ‘logika’ dan logika konektif (hipotetis)

Abad Pertengahan melihat pengembangan di dunia Islam dan Eropa, sementara era modern melahirkan logika induktif (Francis Bacon dan John Stuart Mill) serta logika simbolik (Leibniz, Russel) yang menggunakan simbol matematika, membuka jalan bagi logika modern.  

Periode-periode Penting dalam Sejarah Logika:

  1. Logika Kuno (Yunani):
    1. Pra-Aristoteles: Pemikiran logis alami ada, dipicu diskusi dialektika.
    1. Aristoteles (384-322 SM): Bapak Logika, menyusun logika sistematis (silogisme, Organon) sebagai ilmu berpikir rasional.
    1. Kaum Stoa (Zeno, 334-226 SM): Menggunakan istilah “logika”, mengembangkan logika hipotetis/konektif (jika-maka).
  2. Logika Abad Pertengahan:
    1. Berkembang di dunia Arab dengan komentar dan karya dari Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Averroës.
    1. Di Eropa, logika Aristoteles dihidupkan kembali dan dikembangkan oleh tokoh seperti Petrus Hispanus.
  3. Logika Modern:
    1. Logika Induktif (Francis Bacon, John Stuart Mill): Mengkritik logika silogisme, menekankan pengalaman empiris dan penalaran dari partikular ke universal.
    1. Logika Simbolik (Gottlob Frege, Bertrand Russell, Leibniz): Menggunakan simbol matematika untuk penalaran formal, menjadi dasar logika modern yang ketat.
  4. Logika Kontemporer:
    1. Perkembangan pesat dengan logika modal, temporal, dan relevansi, sangat memengaruhi filsafat analitik. 

Intinya, logika berevolusi dari penalaran alamiah menjadi sistematis (Aristoteles), lalu diperkaya dengan koneksi (Stoa, Islam), pengalaman (Bacon), hingga formalisasi matematika (modern).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *